Minggu, 12 Agustus 2012

Berburu Gurita di Natuna

RSNOOI/YouTube Grimpoteuthis bathynectes.
NATUNA, KOMPAS.com- Masyarakat Natuna berduyun-duyun ke pantai Sujung, Minggu (12/8/2012), untuk memancing gurita yang saat ini sedang musim. "Saya tiap hari bisa mendapat 40 ekor yang berukuran dua ons atau lebih," ujar Tukiu (56), warga Ranai Darat, Natuna.
"Saat ini sedang musim gurita hingga Bulan Nopember nanti," kata Tukiu yang sudah siap dengan alat pancing berikut umpannya untuk menarik perhatian gurita. Umpan yang digunakan Tukiu terbuat dari bahan karet dan menyerupai gurita.
"Saat memancing cukup digoyang sedikit, pasti gurita terpancing memakan umpan," jelasnya.
Aktifitas memancing gurita ini, tambahnya, sudah berlangsung sejak permulaan musim, yakni sekitar bulan Juni. "Di sini kami tidak hanya memancing, tetapi sekaligus menjadi ajang silatuhrahmi," kata Tukiu.
Tampak di Pantai Sujung, masyarakat dengan gembira bercengkrama sambil memancing. "Bertanya kabar dan yang terpenting satu hobi, yakni memancing," sebutnya diamini sekitar 30 puluhan yang memenuhi Pantai Sujung.
Sementara itu, Sandy (30) warga Air kolek, Ranai di pantai Pengadah mencoba menebar jala berharap mendapat ikan. "Sambil rekreasi," katanya bersyukur mendapatkan lima ekor ikan Mudok.
Tukiu maupun Sandy mengaku mencari ikan menjadi aktivitas yang menyenangkan sambil mengisi hari libur. "Saya baru dari Tanjung Datuk dan sempat mendakinya," ceritanya gembira walaupun menempuh perjalanan hingga dua jam dari Kota Ranai sebagai ibukota Kabupaten yang memiliki kekayaaan sumber daya alam gas terbesar di Asia ini.
Sumber :
ANT
Editor :
Marcus Suprihadi

Sabtu, 11 Agustus 2012

SBY: Tingkatkan Kesetiakawanan dengan Umat Islam Palestina

KOMPAS/RIZA FATHONIPresiden Susilo Bambang Yudhoyono 
 
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan umat Islam di Indonesia meningkatkan kesetiakawanan sosial dan kepedulian terhadap umat Islam di Palestina dan Rohingya di Myanmar yang saat ini tengah mengalami perikehidupan yang berat.
Kepala Negara mengungkapkan hal itu saat memberikan sambutan dalam acara peringatan Nuzulul Quran tingkat nasional di Istana Negara, Selasa (7/8/2012) malam.
"Mari kita tingkatkan sikap sosial kesetiakawanan kita, dan kepedulian kemanusiaan kepada kaum Muslimin yang sedang menjalani kehidupan yang berat di Palestina dan Rohingya di Myanmar dengan itu kita akan menjadi bangsa yang maju, terhormat dan bermartabat," kata Presiden.
Presiden Yudhoyono juga menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Al Quran yang utuh, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dan menjauhkan diri dari kejahatan dan kemungkaran.
Al Quran tidak hanya berisi akidah, hikmah dan petunjuk antara yang hak dan batil, tetapi juga luasnya ilmu iptek, kata Presiden.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga kembali menyatakan perlunya untuk mengembangkan lima hal yang ia sampaikan sebelumnya dalam buka puasa bersama dengan kalangan pers. Kelima hal tersebut, pertama, perlunya mengembangkan daya pikir dan daya nalar.
Kedua, pengembangan nilai-nilai demokrasi. Ketiga mengembangkan nilai kerukunan, kebersamaan dan toleransi. Keempat patriotisme dan nasionalisme yang positif. Kelima kepatuhan kepada pranata hukum.
Menteri Agama Suryadharma Ali dalam sambutannya mengatakan, semangat Al Quran harus memiliki nilai-nilai dalam kehidupan umat.
"Dalam ekspresi keimanan, perlu didukung secara penuh oleh semua komponen bangsa yang semakin maju, modern dan bermartabat," katanya.
Sementara itu, dalam acara tersebut, Presiden Yudhoyono yang hadir tanpa Ibu Negara Ani Yudhoyono, didampingi oleh Wakil Presiden Boediono beserta istrinya Herawati Boediono.
Sedangkan Rektor Universitas Islam negeri maulana Malik Ibrahim, Malang, Imam Suprayogo menjadi penceramah dalam acara tersebut dengan tema Al Quran membangun peradaban.
 
Sumber :
Antara
Editor :
Hindra

Pengungsi Rohingya ke Indonesia Bakal Bertambah

AFP PHOTO/FILES/Munir uz ZAMANSeorang pengungsi perempuan Rohingya menggendong anaknya di sebuah kamp pengungsi tak terdaftar di Kutupalong, Banghladesh, pada September 2009. Bangladesh meminta tiga organisasi kemanusiaan internasional untuk menghentikan layanan bagi para pengungsi Rohingya yang berusaha menyelamatkan diri dari penganiayaan dan penyiksaan di Myanmar, Kamis (2/8/2012).


JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Human Right Watch (HRW) Phil Robertson memperkirakan beberapa bulan ke depan akan semakin banyak pengungsi Rohingya yang mencari perlindungan di Indonesia apabila semakin buruknya situasi di Myanmar.
"Bila keadaan di Arakan tidak mengalami perubahan beberapa bulan ke depan, akan dipastikan semakin banyak perahu Rohingya yang tiba di Indonesia mencari perlindungan," ungkapnya, di kampus Universita Indonesia, Jumat (10/8/2012).
Menurutnya, Pemerintah Indonesia juga wajib untuk menolong para pengungsi Rohingya yang meminta perlindungan. "Pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menerima orang Rohingya, menyediakan penampungan sementara, dan pendampingan," paparnya.
Selain itu, Ia pun mengkritik Pemerintah Bangladesh yang dianggap tidak mau menerima kaum Rohingya untuk mencari perlindungan. Bangladesh beralasan tidak memiliki dana untuk menolong para pengungsi Rohingya tersebut. Padahal Bangladesh menerima berbagai bantuan dari berbagai elemen sampai dengan 33 juta dollar AS.
"Pemerintah Bangladesh sama saja dengan pemerintah Myanmar. Pemerintah Bangladesh terus-menerus menyangkal bahwa Perdana Menteri Bangladesh telah memaksa orang Rohingya kembali ke laut," jelasnya.
HRW juga mengharapkan Indonesia untuk mendesak ASEAN agar mau berbicara secara terbuka untuk mengakhiri konflik sektarian di Myammar.
"Terpenting adalah jangan ada standar ganda karena di Indonesia kekerasan sektarian juga terjadi terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiyah," harapnya.
Phil pun menyayangkan tindakan tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang dianggap tidak berbuat apapun dengan kekerasan yang menimpa kaum Rohingya. "Aung San Suu Kyi melewatkan berbagai kesempatan untuk berbicara mengenai masalah ini," sesal Phil.

Timnas Indonesia Cetak Rekor Ranking FIFA Terendah

Di bawah PSSI pimpinan Djohar Arifin Husein, tim nasional Indonesia kembali mencatatkan rekor. Namun sayang, rekor yang kembali tercipta di tahun 2012 ini bukanlah hal yang dapat dibanggakan.

Seperti yang diketahui, timnas Garuda 'memperbarui' rekor catatan kekalahan terbesar mereka setelah ditumbangkan Bahrain dengan skor 10-0, dalam laga Pra-Piala Dunia pada tanggal 29 Februari 2012 silam.

Dan kali ini, timnas Indonesia kembali memperbarui catatan rekor yang buruk, yaitu ranking FIFA terendah dalam sejarah sepakbola Indonesia. Menurut laman resmi FIFA, Indonesia terlempar ke posisi 159 atau turun enam tangga.

Ranking tersebut menjadi yang terburuk, memperbarui rekor sebelumnya, yaitu peringkat ke-153, yang pernah diduduki Indonesia pada masa ketum PSSI Azwar Anas (1995), Nurdin Halid (2006) dan juga Djohar Arifin Husein (2012).

Dengan demikian, ranking Indonesia di negara-negara Asia Tenggara kembali turun. Setelah sebelumnya, Indonesia berada di bawah Vietnam, Thailand dan Filipina, kali ini Garuda harus rela disalip oleh Malaysia yang berada di posisi 157.